waaa nyebai….tulisan yang aku setor sebulan yang lalu ternyata harus direvisi. TOTAL. Salahe dewe taon paling penting kok aku sing kon nggarap, reti aku dudu cah sejarah maneh…Komandan setan kronik nyebai!!!
hehehe peace Gus…
waaa nyebai….tulisan yang aku setor sebulan yang lalu ternyata harus direvisi. TOTAL. Salahe dewe taon paling penting kok aku sing kon nggarap, reti aku dudu cah sejarah maneh…Komandan setan kronik nyebai!!!
hehehe peace Gus…
Posted in sejarah, sosok dirimu dan dirinya...
sembilan tahun sudah kutinggalkan sekolah agama khusus perempuan itu. Sembilan tahun pula aku tak pernah bertemu dan berbagi cerita dengannya. Jarak kami memang tidak jauh, kami masih tinggal sekota, kuliah di universitas yang sama, namun kesibukan hidup membuat kami tidak bisa banyak berbagi cerita. Update kehidupan hanya didapatkan dengan sekedar say halo di lembar friendster dan blog. Entah bagaimana rupanya sekarang. Hingga suatu pagi, saat kubuka blognya, kubaca sebuah berita yang mengejutkan…dia diterima menjadi wartawan di kota ini juga. Iseng ku kirim pesan…dia mengajakku bertemu.
akhirnya hari minggu kemaren, setelah sekian tahun tidak berjumpa dan berbicara dengannya, kita sepakat bertemu di depan gallery 2 taman Ismail Marzuki. Uhm masih sosok yang sama, gaya bahasa yang sama, lebih dewasa tentu. Tak terasa dua setengah jam kami lewatkan di warung makan itu, sambil berbagi cerita tentang jalan yang telah diambil masing-masing selama ini…
Bertemu orang-orang yang pernah menjadi bagian hidup kita di masa lalu memang menyenangkan. Sekedar bernostalgia atau merangkai sebuah hubungan baru. Bunga ayo maen-maen lagi
Posted in perempuan, sosok dirimu dan dirinya...
Tuhan tidak membiarkan aku mengalami keberuntungan memiliki seorang kakak, baik itu seorang kakak laki-laki untuk melindungi maupun seorang kakak perempuan sebagai tempatku mencurahkan isi hati ataupun belajar hidup dari pengalamannya. Itu mungkin pikiran kebanyakan orang jika mengetahui aku adalah sulung dalam keluargaku. Tidak, mereka salah. Aku punya banyak kakak, laki-laki dan perempuan, yang walaupun mereka tidak berasal dari rahim yang sama denganku, mereka selalu ada untuk melindungi dan memberikan nasehat kepadaku. Malam ini akan kutuliskan sedikit kata untuk perempuan itu, orang yang dengan bangga mengatakan “aku adalah kakakmu”.
Pukul 11 malam ini not much things to do, mood untuk bekerja sangat minim, onet sudah terasa sangat membosankan. Jemariku menyusuri rangkaian nama dalam phonebook, dan ku temukan namanya. Rasa bosan, sepi, dan kangen bercampur. Kuputusan untuk memutus mimpinya malam ini. Dimulai dengan sebuah obrolan ringan…bla bla bla…detik, menit, melewati satu putaran jarum panjang jam. Begitu banyak hal yang kami bicarakan. Terlalu banyak kata-katanya, terlalu dalam untuk sekedar dituliskan ulang di lembar-lembar kertas…tapi tak apa kata-katanya sudah terpahat di dalam hatiku. Nasehat tanpa terkesan menggurui, Pujian tanpa kesan menjilat, dan kritikan yang menyadarkan. Tak terasa kedua mataku terasa hangat, hingga sebuah aliran sungai terbentuk di bawah mata kananku. Kusadari sudah lama aku merindukan percakapan semacam ini dengan orang yang memahami aku. Orang yang tidak hanya melihatku dengan matanya, namun juga melihatku dengan hatinya.
Terimakasih mbak. Untuk obrolan, nasehat, tawa, juga airmata yang telah kita bagi selama ini. Salam untuk malaikat kecilmu yang setia menantimu dirumah, juga untuk lelakimu yang sedang menjejakkan kakinya di luar sana.
Posted in perempuan, sosok dirimu dan dirinya...
uhmm akhirnya hari senin terlewati juga. Yah walaupun sebenarnya hari apapun sama saja, namun kayakna aku sudah tersugesti klo hari senin itu toughest day dalam seminggu. Lho kok jadi nglantur? Sebenernya aku cuma mo nulis tentang my lovely sunday siy…Hari minggu kemaren terasa sangat cepat. Bangun jam 9 setelah tengah malam menengak sedikit “air persahabatan” yang disuguhkan mas ino hihihi. Janji memasak hari minggu tinggalah janji. Walaupun banyak yang belum bangun, namun sepertinya mbak Ria sudah tidak sabar untuk menunggu aku bangun untuk sarapan
Nothing special happened during that noon, hingga akhirnya tanpa sadar aku kembali terlena di dunia mimpi. Pukul 5 mbak Ria melompat ke atas tubuhku untuk membangunkan dan mengajakku makan di Mie Gadjah Mada. Kami berenam (aku, mas ino, tiesa, mbak ria, putri, dan seno) meluncur ke daerah gadjah mada dengan 2 bajaj. Uhm baru pertama ini aku melangkahkan kaki ke dalam “warung” mie yang elit ini. Dan seperti yang sudah diduga, harga makanan disini pun cukup elit. Aku pesan mie ayam blackpepper (or something like that…) dan air mineral…Rasanya? Lumayan enak jika tidak membayangkan harganya.
Magrib kami berenam pulang dengan menjejalkan diri ke dalam sebuah taksi. Tiba di veteran 25, mataku tertumbuk pada setumpuk kardus di meja pak indra. Kardus bertuliskan “Bread Talk” dari pelukis Dipo Andy terhampar disana. hihihi ada rejeki niy…Setelah menghabiskan sebuah roti yang lumayan mengenyangkan, aku inget masih ada jatah makan dari gudeg bu tjitro. Hihihi aku makan bareng mas ino yang menyerah ditengah jalan. Wah malam itu dengan perut yang penuh aku tidur demi menyambut hari senin ini.
Sebenarnya ini senin yang lumayan indah, aku mampu menyelesaikan targetku hari ini, ah seandainya bibirku tidak bengkak sehabis makan malam. Alergi opo yo? Duh semoga cepet sembuh, aku ga mau besok ke perpusnas dengan bibir “penuh” seperti ini
masuk ke dunia fantasy tepat tujuh menit setelah pintu dibuka. Suasana masih sepi, hanya di luar sudah terdapat beberapa rombongan sekolah dari daerah Sunda dengan logat mereka yang kental terdengar. Setelah berkeliling, akhirnya kami memutuskan untuk berbasah-basah ria dahulu dengan arung jeram. Tidak begitu menakutkan, lebih seru ketika arung jeram di sungai elo Magelang beberapa tahun yang lalu. Dengan baju yang sedikit, hanya sedikit, basah kami berputar-putar mencari wahana lain. Ternyata nyali kami memang kecil, kami hanya masuk ke wahana-wahana seperti rumah miring dan rumah kaca, sebelum akhirnya memutuskan untuk naik cangkir putar. Keliatannya memang simple, tapi cukup membuat pusing. Duduk di dalam cangkir besar yang diputar sedemikian rupa, ada beberapa anjuran yang mungkin bisa diikuti. Satu jangan makan besar sebelum masuk dufan, dua jangan minum minuman bersoda, apalagi minuman beralkohol.
Istana boneka merupakan tujuan berikutnya. Di wahana ini kami harus mengantri dengan rombongan ibu-ibu dan anak-anak kecil. Wahana ini konon memang yang paling ramai oleh pengunjung kalangan itu. Melihat namanya, tentu di dalamnya ada boneka dengan pakaian adat dari seluruh Indonesia plus beberapa negara. Tapi menurutku di wahana ini jangan pernah membayangkan boneka yang identik dengan sesuatu yang imut. Bayanganku langsung melayang ke sosok boneka Chukky si pembunuh dalam film horor Amerika itu. Terutama ketika aku melihat boneka berpakaian adat Bali dengan matanya yang bergerak ke kiri-kanan. hiiiy serem…
Keluar dari sini, kami memutuskan untuk memacu adrenalin kami. Alap-alap menjadi pilihan kami, berhubung nyali kami cukup kecil untuk mencoba wahana macam halilintar maupun toranado. Kami mencoba wahana ini 2 kali. Yang pertama 3 putaran, plus bonus dapat “suami” hahaha. Sebelum wahana dimulai sang penjaga sempat berkata “Mbak disuruh bareng ama suaminya”. Dengan spontan aku jawab “suami siapa mas?” ternyata dia salah dengan orang di depan kami hehehe. Tiga putaran belum cukup untuk mengeluarkan beban dengan berteriak. Kami mencoba sekali lagi, dan mendapat bonus 2x putaran. Yup yang kedua mencapai 5 putaran hingga orang-orang yang sekereta dengan kami terus menjerit. Diantara 2x alap-alap kami mencoba kora-kora. Not bad lah, tapi tisa yang sedang bertamu merasa tidak nyaman dengan wahana ini.
yah setelah berputar-putar kami memutuskan cukuplah sudah petualangan kami kali ini. Saatnya pulang sebelum rush hours busway dimulai. Kami merasa belum cukup puas dengan petualangan dufan kali ini, karena belum mencoba halilintar dan semacamnya. Setelah tanggal 11 bulan ini akan kami lanjutkan petualangan dufan part II.
Dufan nantikan kedatangan kami.
Posted in jalan-jalan, my life
Apa hubungan ketiganya? baca cerita dibawah ini…
Pagiku hari ini diawali dengan lambat, aer yang ngadat ga mau ngalir, sarapan yang ternyata harus masak sendiri, hingga menunggu teman yang luar biasa lama. Setelah melalui perdebatan panjang di depan TV yang semakin mengecil itu, diputuskan aku dan tisa tidak berangkat ke perpusnas sementara 3 orang lainnya memutuskan untuk berangkat. Di tangga menuruni veteran 25, tisa memutuskan untuk berangkat kerja, namun ternyata 3 orang itu sudah berhasil bernegosiasi dengan seorang tukang bajaj untuk mengantarkan ke Salemba Raya. Akhirnya aku dan Tisa memutuskan untuk tetap berangkat dengan menggunakan bis. Menunggu P2 di Juanda bisa jadi sebuah pekerjaan yang menyebalkan. Bis yang satu itu seolah-olah tak kunjung datang juga. Fiuh, melihat shelter busway Juanda di depan mata yang sepi menyebabkan hasrat bertualang kembali meningkat. Akhirnya aku dan Tisa memutuskan untuk bolos dari perpusnas dan memulai petualangan kami menyusuri jakarta dengan busway.
Kami melompat ke dalam busway pertama yang kosong. Warna biru, arah harmoni-senen. Sebenarnya kami belum tau arah tujuan, satu yang pasti kami mo pulang magrib. Ditengah jalan muncul ide untuk naik busway hingga ke shelter terakhir. Di Shelter senen kami memilih busway koridor 5, yaitu Kampung Melayu-Ancol. Ini berarti kami akan bertualang ke Ancol.
Ternyata Senen-Ancol tidak memakan waktu lama, sekitar 15 menit kami sampai di halte terakhir di Ancol. Seketika itu kami bingung, apa yang akan kami lakukan, karena uang di saku yang cekak. Akhirnya kami memutuskan untuk sekedar berjalan-jalan untuk melihat berapa harga tiket masuk Dufan. Ternyata duit yang tersisa di atm masih mampu menjangkau 2 tiket dufan. Jadilah dengan nekad kami masuk ke Dufan, hari ini pukul 11.07.
to be continued…
Posted in jalan-jalan, my life
sekali lagi, aku merasakan yang namanya terjebak di antara pihak. Its suck. Pernah denger istilah makan buah simalakama, dimakan bapak mati-ga dimakan ibu mati? Aku merasa dalam posisi itu saat ini. Keduanya temanku. Salah satunya adalah kaumku, perempuan. Yang terbaik untuk perempuan itu menyakiti sang lelaki, sedangkan yang terbaik bagi lelaki itu akan terus menyakiti sang perempuan dan pihak lain yang tidak berdosa, sang anak.
Maaf buat kalian berdua, aku tidak punya solusi untuk masalah kalian. Hanya kalian yang tahu apa yang terbaik. Hanya doa dan waktuku yang bisa kuberikan. God bless u all…
keluargaku bukanlah sebuah keluarga sempurna seperti yang sering terlihat di sinetron-sinetron yang menghiasi layar kaca. Tidak ada sarapan bersama tiap pagi, ataupun makan malam bersama. Ibuku bukanlah ibu rumah tangga ideal seperti ibu-ibu di sinetron itu, ibuku tidak menguasai banyak jenis masakan, ibuku bisa sangat sabar namun juga bisa sangat menjengkelkan di saat yang berbeda. Bapakku adalah sosok yang tidak pernah marah, kemarahannya hanya akan dipendam dalam kebisuannya. Bapak-ibuku bukanlah sosok yang otoriter, mereka membebaskan aku untuk memilih apapun yang aku inginkan, misalnya saja dimana aku hendak sekolah, kuliah, apa aktivitasku…mereka tidak pernah mengekangku. Bahkan walaupun menyebabkan aku pulang hingga tengah malam. Mereka memberikan kepercayaan sepenuhnya kepadaku, hanya satu hal yang pernah dikatakan bapakku, “Ojo macem-macem”. Kata-kata itu cukup jelas terngiang hingga saat ini. Hal ini membuatku merasa sangat bersyukur, karena aku tahu ada beberapa temanku yang tidak merasakan kebebasan seperti yang aku dapatkan. Mereka juga tahu dan cukup dekat dengan teman-temanku, bahkan dengan keluarga teman-temanku. Jika aku tidak pernah membicarakan masalah kisah cintaku dengan mereka, itu hanya karena aku tidak ingin mereka tahu betapa kejamnya aku kepada laki-laki…hihihi.
Kedua orangtuaku bukan sosok yang romantis, tidak ada pegangan tangan, ataupun kecupan saat mengantarkan bapak berangkat kerja. Namun aku tau hubungan mereka sudah lebih dari sekedar sentuhan fisik. Satu hal yang kuinginkan ada dari diri pasanganku kelak yang kulihat ada dalam diri orang tuaku adalah, membiarkan masing-masing terus beraktualisasi diri dengan tetap berhubungan dengan teman-teman lama mereka. Seringkali mereka pulang lewat tengah malam karena berkumpul dengan teman-teman lama mereka. Mereka juga sering…terlalu sering malah, pergi malam mingguan berdua. Mulai dari angkringan tugu pak Man hingga jalan ke Ketep berdua, meninggalkan anak-anaknya di rumah…sebel siy, tapi mungkin mereka memang butuh waktu berdua saja untuk mengenang masa-masa pacaran mereka puluhan tahun silam.
Mereka juga sosok yang asik untuk diajak nongkrong bareng. Berapa banyak orang yang senang jalan bareng ke mall, klithikan atau sekedar ngangkring bareng orang tuanya? Tapi aku merasa nyaman untuk ngangkring di tempat Pak Man bersama mereka. Pernah aku ketauan temen SMAku jalan di klithikan (saat itu masih di selatan tugu Yogya) bareng bapakku. Paginya beredar gosip devi jalan bareng om-om hahahaha…
Kedua adik lelakiku sosok yang sangat berlawanan. Rinto, adikku yang pertama, 7 tahun perbedaan usia kami. Perawakannya tinggi, kurus, dan berkacamata.Dia bukanlah orang yang banyak bicara. Hidupnya pun bisa dibilang neko-neko, pulang sekolah langsung masuk kamar, jarang sekali dia pergi main dengan teman-temannya. Sementara Janu, sibungsu yang terpaut 9 tahun dariku, benar-benar kebalikannya. Copycat dari bapakku, termasuk hobi dolannya (yang juga menurun padaku).
Berada jauh dari mereka, bertemu dengan teman-teman yang berasal dari keluarga otoriter, keluarga yang dingin atau bahkan tumbuh jauh dari keluarga, membuat aku sangat merindukan mereka.Di sini aku merasa sangat beruntung memiliki mereka, karena mereka merupakan bagian sejarah hidupku yang membentukku menjadi devi yang sekarang ini. Kangen ni…besok pagi telpon ibu ah…
Posted in my life
Anyam Anyaman nyaman
by.Sudjiwo Tedjo
Anut runtut tansah reruntungan
Munggah mudun gunung anjok samudro
Gandhen rendhen anjejerang rendheng
Reroncening kembang kembang kemanten
Mantene wis dandan dadi dewo dewi
Dewaning asmara gya’ mudhun bumi
reff :
Ela mendung bubar mawur
Mlipir – mlipir gya’ sumingkir
Margya dalan kemanten dalanpun dewa – dewi
Swara trompet ting celeret
Arak – arak sigra sigrak
Datan kendhat anut runtut
Gya mudhun bumi
(kamajaya-kamaratih….)
selalu bergandengan tangan seiring sejalan
naik turun gunung sampai kedalam samudera
beringan laksana rangkaian bunga untuk pengantin
sang pengantin telah berdandan laksana dewa – dewi
dewa asmara yang turun ke bumi
reff :
lihatlah mendung menyingkir
menuju ke tepi dan segera berlalu
sebab jalan bagi pengantin adalah jalan bagi dewa – dewi
terdengar suara terompet
berarak – arakan dan bergembira
tidak putus- putusnya arakan itu
dan segeralah menuju ke bumi
aku suka lagu ini sejak lama, tapi baru hari ini kutemukan liriknya dan baru hari ini juga aku tahu bahwa ini lagu tentang pernikahan. Kayakna bagus juga klo diputer pas nikahan uhm… Mantene wis dandan dadi dewo dewi, Dewaning asmara gya’ mudhun bumi la..la..la
Posted in song-poem-qoute
Have you ever addicted to something? Satu-satunya kecanduan yang pernah aku alami adalah kecanduan minuman keras. Ini terjadi sepulangnya aku dari negeri om Hitler hampir 3 tahun yang lalu. Berangkat dengan tekat mengumpulkan data penelitian bertema makna bir bagi mahasiswa di kota itu, otomatis setiap hari aku bergumul dengan berbagai macam minuman keras seperti bir, wine, serta berkenalan dengan berbagai jenis cocktail. Selain itu tinggal bersama ingo dan julia pada dua minggu terakhir kunjungan itu menambah jumlah alkohol yang aku konsumsi, karena setiap hari kami mengadakan little garden summer party yang menyebabkan aku mengkonsumsi minimal 1 botol white wine setiap malam.
Pulang ke Indonesia dan menyesuaikan diri lagi dengan budaya yang aku tinggalkan selama sebulan, dimana minum- dengan tanda kutip- menjadi hal yang dianggap negatif membuatku tidak bebas lagi mengkonsumsi minuman jenis apapun. Pernah badanku terasa menggigil pada malam-malam awal di yogya, memimpikan segelas anggur putih sebagai pengantar tidur.
Hingga lulus kuliah pertemuanku dengan alkohol sangatlah jarang, hanya pada saat-saat special, itupun tidak sebanyak dulu. Sampai saat kedatanganku di ibukota ini, saat aku bertemu dengan sebuah komunitas yang seringkali bergumul dengan alkohol. Istilah work hard play hard yang dulu aku saksikan di Jerman, ternyata juga juga terjadi di sini. Tekanan kerja yang begitu kuat menyebabkan banyak orang dengan tingkat stres yang tinggi berkumpul untuk sekedar ngobrol, berbagi inspirasi, atau memang mencari sarana menuju puncak kenikmatan duniawi. Seperti semalam, entah sudah yang keberapakalinya dalam tahun ini, tidak begitu sering memang, tapi aku memang tidak ingin terlalu sering bergabung dalam komunitas tersebut. Tapi tadi malam merupakan yang terparah yang aku alami sepanjang sejarah per-alkoholanku, entah karena tubuhku sedang tidak fit, cara minumku yang terlalu cepat, atau mungkin terlalu banyak…
duh Gusti, aku mengawali hari ini dengan hangover… semoga hari ini akan menyenangkan
Malam ini biarkan ku tuliskan kisah tentangmu, tentang seorang lelaki yang ada dalam hidupku. Bukan, dia bukanlah lelaki yang kuharapkan menjadi kekasihku. Dia adalah sosok lelaki yang kuharap menjadi kakakku. Lelaki yang menemaniku berjalan jauh malam itu, lelaki yang mengirimku sms sekedar mendoakan mimpi indah untukku, lelaki yang menawarkan makan bersama, lelaki dengan selera humor yang berbeda, lelaki dengan gosip-gosip terbarunya, dan lelaki dengan kisah uniknya tentang Tuhan serta perempuannya.
Begitu banyak kisah indah tentangmu yang menari-nari dalam benakku, namun seakan ku tak mampu untuk menuangkannya disini. Ah, seandainya bisa ku tuliskan namamu di sini, tentu akan mudah bagiku untuk menjelaskan pada mereka tentang sosokmu…
Posted in my life, sosok dirimu dan dirinya...
hampir delapan tahun kumengenalnya tanpa pernah bertemu sosoknya, beberapa hari yang lalu kuterima pesannya “Aku sudah menghubungi agen perjalanan, aku akan datang menemuimu”
Akhirnya aku akan menemuimu, menyambutmu di bandara dengan pelukan dan kecupan kecil di keningku seperti yang kau janjikan…
Posted in my life, sosok dirimu dan dirinya...
Sebuah buku yang telah lama berada di rak itu menarik perhatianku. “Barat dipandang dari kacamata Timur” itu nama yang melekat di cover buku itu. Aku terusik untuk kembali membuka buku itu, buku yang menampilkan salah satu hasil penelitianku tahun 2005. Membuka kembali buku itu membawaku berkelana ke masa lalu, ingatanku langsung tertuju ke sebuah kota tua di ujung selatan barat Jerman, berbatasan dengan Perancis dan hanya dipisahkan oleh sungai Rheine, Swiss di sebelah selatan, bernama resmi Freiburg im Breisgau.

Mengingat Freiburg secara otomatis aku merindukan sebuah kathedral tua yang berada ditengah kota itu. Sebuah kathedral yang dibangun mulai tahun 1120, yang merupakan lokasi favoritku di kota kecil ini. Di depan kathedral ini banyak kenangan yang terjadi. Mulai dari jalan-jalan di pagi hari untuk mendapatkan sekeranjang strawberry manis, cherry, apel, kerajinan tangan atau menemani mbak sita melakukan penelitiannya atau bahkan sekedar mengabadikan perjalanan kami dalam dalam selembar kertas.
Posted in budaya, jalan-jalan
Jumat, 22 Februari 2008 lalu hitungan usianya mencapai 26. Ucapan selamat kulayangkan lewat sebaris kata di layar handphone. Malam minggu itu kami bertemu sekedar untuk say hai dan makan malam bersama, seperti biasa dia menjemputku di depan ongkojoyo. Sesosok laki-laki dengan honda grand, dengan senyum yang masih seperti dulu dan rambutnya yang dibiarkan mulai memanjang….
warung kupat tahu di selatan lingkar selatan yogyakarta menjadi pemberhentian kami setelah bingung mau kemana, huh ternyata kami masih seperti dulu: tidak pernah akur dalam urusan makan. Obrolan dari sekedar basa-basi hingga mimpi-mimpi mengalir di sini. Aku kemudian tersadarkan, kami telah mengambil jalan yang berbeda dipersimpangan hidup. Jalan yang diambil terlalu berbeda, impian yang berbeda, cara hidup yang juga berbeda. Impiannya yang dulu menjadi daya tarik berubah menjadi sebuah mimpi idealis yang bisa dikatakan utopis. I cant fall in love with this kind of man. Mungkin pertemuan malam itu merupakan sebuah pemuasan bagiku, sebuah pertemuan akhir untuk melepaskannya…
Posted in my life
sudah sejak akhir oktober aku berada di kota ini, namun hanya sedikit sudut dan lorongnya yang telah kusentuh. Hingga malam itu seorang kawan lama menghampiri mengajakku sekedar untuk makan malam. Seorang lelaki yang menurutku sedang merasakan kesepian jauh dari keluarganya. Makan malam dan obrolan ringan di belakang blok m plaza dilanjutkan dengan secangkir kopi di starbucks sarinah. Tiga gelas Jack D berganti dengan secangkir kopi…Malam berganti pagi…kami mengarungi dinginnya pagi kota jakarta. Sarinah-Gunung Sahari-Mangga dua-Jakarta kota-Komplek Gadjah Mada-Cikini-Matraman-Jatinegara-Cawang-hingga arah bogor. Entahlah dia begitu menikmati malam itu hingga mengajakku keluar lagi senin malam ini…Menikmati sudut-sudut lain kota yang tak pernah mati ini.
Posted in jalan-jalan
No, I dont….Please just step back and leave me alone…
Posted in Tidak terkategori, my life
Mereka adalah orang-orang yang selalu siap mengulurkan tangan untuk meraihku saat aku terjatuh.
Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menghakimiku.
Mereka adalah orang-orang yang bisa menerima apa adanya diriku.
Mereka adalah ulat yang mulai menjelma menjadi kupu-kupu dan siap untuk terbang tinggi.Tapi aku tahu bahwa mereka akan selalu mendengar panggilanku saat kubutuhkan. Dan aku akan selalu ada untuk mereka.
Tisa, Erma, Ndari, Yuda, Irwita, Irfan…They are my personal soul circle
Posted in my life, sosok dirimu dan dirinya...
I go crazy, crazy, baby, I go crazy
You turn it on
Then you’re gone
Yeah you drive me
Crazy, crazy, crazy for you baby
What can I do, honey
I feel like the color blue. . .
Malam ini sepenggal bait dari aerosmith seakan menari-nari di kepalaku, mengingatkan ku pada dirinya. Sesosok yang pernah kucintai dan kusakiti dengan rasa cinta. Yang pernah menyanyikan lagu ini untukku. Maaf karena diriku telah memulai kisah ini, maaf juga karena diriku yang akhirnya meninggalkanmu. Kebersamaan kita memang tidak lama, hanya empat bulan, dikurangi masa-masa studiomu, kepergianku ke jerman dan pelosok Pekalongan. Belum lagi keegoisan kita berdua yang seakan terus menerus menjadi penghalang kebahagian ini. Maafkan aku juga yang seakan selalu menuntut kata-katamu, padahal telah kau ungkap semua dalam sms dan email yang kau kirimkan. Bersamamu kadang terasa sangat menyakitkan, tetapi ternyata tanpa dirimu rasanya lebih menyakitkan. Tak apa karena memang ini kesalahanku yang telah menduakanmu. Mengenalmu membuatku menjadi pribadi yang lebih baik, mampu mengendalikan ego dan emosi, serta berpikir lebih logis. Terimakasih.
Tulisan ini adalah persembahan terakhirku untukmu. Setelah ini akan kubungkus namamu dalam sebuah kotak dan akan kutempatku di sudut hatiku tanpa pernah akan ku buka lagi. Aku akan melangkah mencari hati yang lain, tidak untuk sekedar kusinggahi, tapi untuk berlabuh selamanya…
Posted in my life
Sudah lama rasanya aku tidak berkeliling kota yogya-dalam artian sebenarnya. Waktu senggangku selama ini hanya kuhabiskan di jalanan kota dengan rute yang sama jalan goden-kampus ugm-kawasan malioboro. Kedatangan seorang kawan dua hari menjelang natal membuat aku berkesempatan bernostalgia dengan kenangan di kota ini.
Minggu, 23 Desember 2007. Setelah di stasiun tugu aku menunggu datangnya kereta pramex dari Solo yang membawanya. Agak nerveous juga karena ini adalah pertemuan kami yang kedua kalinya. Aku takut dia tidak mengenaliku, karenanya aku memakai rok batik warna merah yang eye-catching. Pertemuan yang kedua dengan seutas kata hai dan basa-basi ringan. Perjalanan dilanjutkan menuju jalan sosrodipuran untuk mencari hotel. Satu-satunya tempat yang aku kenal dengan baik adalah hotel monica, yang dekat dengan kafe dan warnet yang mungkin akan sangat berguna bagi dia. Kami beruntung karena masih tersisa sebuah kamar, walaupun harus menunggu hingga kamar itu selesai dibereskan. Long holiday membuat hotel-hotel di sepanjang jalan itu memasang tanda “kamar penuh”. Setelah menitipkan tas kepada petugas hotel, parkir motor di ngadiwinatan, kami berjalan menyusuri rumah-rumah tua di kauman menuju masjid gede, kawasan kraton, dan singgah sementara di museum kereta. Perjalanan kami lanjutkan menuju reruntuhan pulau cemeti di selatan pasar burung Ngasem. Samar-samar aku ingat saat masih duduk di bangku SD, waktu itu di bulan ramadhan setelah sholat subuh aku dan beberapa orang temanku juga mendatangi tempat ini, walaupun aku tidak begitu ingat setiap detilnya. Rok batik yang terus melambai dan high heels yang kukenakan tidak membuatku mengurungkan niat untuk naik ke atas reruntuhan itu lagi. Memandang kota yang telah mengenalku sejak aku lahir dari atas reruntuhan pesangrahan keluarga sultan ini membuatku bergetar. Ada sedikit keharuan dan perasaan damai yang membuatku enggan meninggalkan tempat ini. Tapi detik terus berjalan masih banyak lokasi yang harus kami datangi sebelum awan hitam yang mengelayut berubah menjadi rintik hujan. Perjalanan berlanjut menuju kawasan tamansari dan sumur gemuling. Dua kawasan yang seakan membawaku kembali ke masa lalu hanya dengan melihatnya. Hujan menyambut kami di setelah keluar dari sumur gemuling. Hujan deras dan perut yang mulai berteriak berharap untuk diisi membuat kami singgah di sebuah warung makan di kawasan ngasem. Kemudian kami pulang sebentar sekedar untuk menikmati camilan khas yogyakarta, dan pada malam hari perjalanan berlanjut menuju alun-alun kidul untuk mencoba masangin. Sepupuku rian bergabung dengan kami malam itu. Nadi mencoba hingga 6 kali tanpa pernah berhasil melalui 2 tembok yang mengelilingi dua pohon beringin besar di sana. Rian mencoba dua kali dan berhasil di usahanya yang kedua. Sedangkan diriku yang tidak pernah mau mempermalukan diri sendiri mencoba sekali dan gagal! Malam ini kebersamaan kami ditutup dengan makan malam di kawasan jalan Kaliurang.
Senin, 24 Desember 2007. Saatnya berpetualang. Aku, Rian, dan Nadi memutuskan untuk menjadi si bolang (si bocah ilang hihi) hari ini. Prambanan merupakan pilihan pertama, kami menyusuri rute yang lebih jauh daripada wisatawan pada umumnya karena kami memutuskan untuk melihat candi-candi lain di kawasan candi prambanan. Setelah bernasis ria kami berdebat tentang tujuan kami selanjutnya. Rian mengusulkan untuk pergi ke kraton ratu boko sedangkan aku ingin pergi ke makam raja-raja imogiri, dan Nadi membiarkan kami untuk memutuskan…great. Akhirnya aku mengalah karena sebenarnya kau juga belum pernah ke sana. fuih ternyata candi ratu boko memang bagus, landscapenya, suasananya, arsitekturnya….apalagi lokasi candi ini berada di atas bukit jadi kita bisa lihat pemandangan di sekitar prambanan. Puas berfoto-foto (yeah acara pokok pada hari ini adalah bernarsis ria), lapar mendera. Dalam perjalanan pulang kami singgah di warung padang jalan piyungan. Di sini muncul sebuah ide gila….lihat sunset di paris!!! Gila niy orang gada capeknya kali ye…akhirnya kami berdua, rian ada acara sehingga harus meninggalkan kami, menuju arah selatan yogya, pantai parangtritis menunggu!!! fiuh capek deh…Niatan untuk melihat sunset di Paris gagal dengan sempurna karena mendung menggelayut di Pantai selatanYogya. Walau begitu Nadi dengan sikap kekanakannya melepas sepatu dan mulai bermain riak air pantai. Tergoda oleh ajakan bergabung membuat aku ikut melepas sepatu dan mengamankan barang-barang anti airku kemudian ikut masuk dalam kesenangan bermain air. Sayang, hujan rintik mulai mengganggu permainan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk membasuh diri dengan air hangat di parangwedang, namun apa mau dikata, kami datang terlalu malam hingga pemandian itu sudah tutup. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Yogya dengan celana penuh pasir pantai dan baju basah terkena rintik hujan. Hari ini berakhir? hoho jangan salah…kami masih melanjutkan perjalanan menuju istana pakualaman. Sekedar tuk berteduh dan mengisi perut. Di sini Hajar bergabung dengan kami untuk sesaat, hingga akhirnya jam berdentang sebelas kali saat kami memutuskan untuk pulang.
Natal tahun ini, kami berdua tidak merayakan natal…so nothing religious moment hapenned. Pagi kami berangkat menuju stasiun tugu untuk mencari tiket untuk kembali ke jakarta. Long weekend mengakibatkan antrian orang yang ada sangat panjang…dengan sedikit bantuan kami berhasil mendapatkan tiket untuk tanggal 26.
Posted in jalan-jalan
Devi subejo…
sebuah nama yang ditawarkan ibuku setelah aku menerima sebuah panggilan kerja di departemen kebudayaan dan pariwisata…yeah PNS. Ibuku memang selalu berpendapat bahwa diriku memiliki keberuntungan yang seakan tidak pernah habis. Beliau masih ingat saat aku duduk di bangku SMP di sekitar tahun 1997. Saat itu Indonesia raya tercinta sedang mengalami sebuah fenomena yang disebut krismon, yang menyebabkan harga dolar melambung dari sekitar dua ribu sekian melejit hingga angka lima belas ribu. Hal ini menyebabkan rencana untuk melakukan homestay di Australia terganjal masalah keuangan. Samar-samar aku ingat saat itu aku berharap bahwa suatu saat aku akan menginjakkan kakiku di negara lain tanpa harus membayar alias gratis. Mimpi atau yah bisa dikatakan sebagai doa ini terkabul juga saat aku menjadi seorang mahasiswa antropologi yang “beruntung” terpilih untuk melakukan penelitian di Jerman…GRATIS!!!
Hari sabtu itu ibuku juga bercerita tentang berbagai mimpi-mimpiku yang seakan selalu dikabulkan. Bahkan saat ini, ketika aku lolos ke tahap wawancara seleksi PNS. Sejujurnya aku merasa bersalah kepada orang-orang yang mendaftar dan ikut tes tertulis yang benar-benar ingin lolos dalam seleksi ini. Dari 28 orang menjadi 4 orang setidaknya aku telah mengalahkan 26 orang lain, karena aku dalam posisi 2 tertinggi. Keberuntungan. Karena saat ini aku benar-benar belum siap untuk berkomitmen jangka panjang dalam bentuk apapun, semua rangkaian ini kujalani demi menyenangkan hati keluarga besarku di Yogyakarta. Berangkat menuju Medan merdeka barat dengan setengah hati dan nothing to lose, ternyata Tuhan berkehendak lain. Aku lolos dalam tes pertama itu. Aku selalu merasa bahwa keinginanku untuk memberi yang terbaik dari diriku menyesatkan aku kali ini, karena walaupun tes itu aku kerjakan dengan setengah hati namun nyaliku tertantang untuk memberi jawaban semaksimal mungkin…
uhm…saat ini aku hanya bersiap menanti apapun yang akan Tuhan tawarkan dalam hidupku. Semoga keberuntungan ini masih berkenan untuk terus mengikutiku tanpa aku harus mengganti nama menjadi DEVI SUBEJO.
Posted in my life