Pagi itu, hari kedua aku berada di lovely hometown, seorang sahabat bercerita bahwa dirinya baru saja diputuskan oleh sang kekasih. Alasannya sepele saja, saat hujan lebat sedang menyinggahi yogya, sang pacar memaksa untuk diantarkan membeli lauk. Padahal lokasi rumah sang pacar lebih jauh daripada warung yang berada di ujung gang rumah perempuan tersebut. Ketika hujan mulai reda, sang sahabat ini baru berangkat menuju rumah sang pacar dan hanya disambut dengan kecuekan pacarnya tersebut. Merasa usahanya tidak mendapat tanggapan yang baik, sang sahabat menarik kencangĀ gas motornya pulang. Siangnya si pacar mengirim sebuah pesan singkat yang berisi pernyataan minta putus, dan sore harinya dia datang ke rumah sahabat dengan membawa sebuah kardus berisi semua hadiah yang pernah diberikan untuk dirinya.
Selang beberapa hariĀ perempuan itu kembali mengirimkan pesan berisi penyesalan serta keinginan untuk kembali menjalin kisah. Sang sahabat yang merasa harga dirinya terinjak karena semua hadiah yang pernah diberikan dikembalikan di depan keluarganya, mengatakan bahwa hubungan mereka sudah tidak dapat diteruskan lagi. Sebuah pesan kembali dikirim dengan kata-kata, “kamu sih enak, aku yang rugi”.
Rugi?? Knapa perempuan itu merasa dirugikan?seharusnya dia menimbang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah melakukannya…apapun itu. Menurutku masalah agama dan pilihan-pilihan seksual merupakan masalah pribadi seseorang, yang tidak ada seorangpun berhak untuk menghakimi benar atau salah. Namun bukankah lebih baik jika pilihan itu telah dipikirkan dengan seksama dan penuh rasa tanggungjawab, sehingga tidak akan menyesal nanti??
wah, no commen dah…
By: noel on December 21, 2007
at 4:21 am
bner bngt p’nyesalan sllu dtng trlmbat?
sobat sbr ja_a sma psti akan ada hikmah_a?
slm hngt adel.
By: adel on July 22, 2009
at 7:37 am