Posted by: devi | December 12, 2007

Kremun->Karimunjawa

Hampir empat putaran matahari kulewati sejak pertama kali aku menjejakkan kaki ke sebuah daerah yang bernama Karimunjawa. Januari 2004 saat 40 orang mahasiswa antropologi semester 5 nekad untuk melakukan penelitian lapangan di daerah yang terpencil ini. Larangan berangkat oleh dosen dengan alasan buruknya cuaca tidak kami perhatikan, hanya demi sebuah kesenangan…mencicipi kehidupan di el paradiso.

Perjalanan Yogya-Jepara kami lalui dengan penuh ketegangan setelah terjadi kesalahpahaman dengan pihak penyedia bis yang saat itu tak juga kunjung datang, padahal kami harus mengejar kapal yang hanya beroperasi 2 kali seminggu. Saat itu satu-satunya kapal umum untuk mencapai kepulauan karimunjawa hanya terdapat dari Jepara, namun saat ini seiring dengan promosi pariwisata Karimunjawa, terdapat pula kapal dari pelabuhan di Semarang (dengan tempo 2 jam perjalanan, tentu dengan ongkos yang lebih mahal).

Perjalanan laut selama 6 jam tentu saja menyiksa sebagian besar dari kami yang tidak terbiasa dengan ombak. Minimnya fasilitas, serta besarnya ombak bulan januari membuat banyak yang mengalami mabuk laut. Tapi semua kelelahan itu terbayar saat di tengah lautan kami melihat sekelompok lumba-lumba yang seakan menyambut kedatangan kami ke pulau itu.

Tiba di Pulau utama kepulauan itu kami disambut penduduk yang memang telah menantikan datangnya kapal hari itu. Hal ini bisa dipahami karena penduduk Karimunjawa secara logistik memang bergantung pada kapal yang menyuplai bahan pangan ini. Oleh karena itu tidaklah heran bila kita mendengar kabar penduduk Karimunjawa yang mengalami krisis pangan ketika musim badai laut datang.

Perjalanan menuju mess yang katanya berjarak 30km dari pusat kota (walaupun aku tidak pernah mengukurnya secara pasti sih) dengan menaiki pick up merupakan pengalaman yang menakjubkan. Pemandangan laut maupun hutan bakau di kanan kiri jalan bergantian dengan rumah-rumah penduduk sangat berbeda dengan apa yang kami lihat sehari-hari di Yogyakarta. Sangat tenang dan alami, ngga banyak motor maupun mobil berseliweran. Ya iyalah penduduknya aja masih sedikit banget apalagi kendaraannya.

Culture shok yang merupakan kesulitan untuk beradaptasi dengan budaya lokal tentu saja terjadi pada hari-hari awal keberadaan kami di el paradiso ini. Bayangkan! jempol kami yang biasa memencet-mencet keypad hape tiba-tiba harus dipensiunkan dini karena tidak tersedianya pohon sinyal. Belum lagi masalah listrik yang dari pln hanya menyala 2 jam seiap harinya dari pukul 18.00-20.00, yang biasanya disambung dengan tenaga diesel yang harus kami hemat demi menjaga isi dompet tetap ada. Minimnya hiburan terobati dengan ramahnya warga sekitar dan banyaknya lokasi indah yang mengantri untuk didatangi.

to be continued…


Responses

  1. Aku menikmati perjalanan kamu, dengan membaca kalimat demi kalimat. Sayangnya perjalanan membaca tulisan kamu tidak jauh, baru saja angkat gas tiba-tiba aku harus ngerem, sebab tulisannya udah abis.
    So, bikin yang agak panjang ya,,,

  2. hehehe belum selesai tu, tadi pas nulis tiba-tiba ngantuk. Tunggu aja cerita berikutnya

  3. Bikin 4 tulisan dalam satu malam setelah malam itu juga bikin blog, bisa dibilang ihtiar cukup gigih untuk mempertinggi produktivitas isi blog.. seep!! tur kok kamu tuh masih inget aja ya, ama peristiwa-peristiwa yang telah berlangsung, bahkan 2 tahun lalu.. hehe
    Woi, kok ga kamu tulis seh kisah sedih di hari selasa.. belum tidur, pengen foto, trus nyisir rambut biar kinclong depan kamera.. eh nyata ternyata sang batere kamera tak berdamai ama kamu, so ra sido foto Dev.. haha

  4. Devidevi, kasiannya. \
    Udah lap iler, plus kucek mata dengan dua jari, gosok gigi biar putih, sisir biar rambutnya gak jabrikjabrik, eh malah baterenya bais…

    buat hajar, jangankan 2 tahun lalu mbak, saya umur 4 tahun juga masih keinget tuh…pernah tutt (maaf offtherecord)

  5. karimunjawa….
    nostalgia tak terlupakan dalam bagian hidupku ..

    sayang waktu itu akuin blom punya kamera bahkan yang analog sekalipun…

    rindu angin karimunjawa…


Leave a response

Your response:

Categories