Posted by: devi | December 11, 2007

(ke)Tuban

Banyak kota di Pulau Jawa ini yang pernah ku singgahi selama perjalanan hidup ini, salah satunya adalah Tuban, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara Jawa Timur. Awal puasa tahun ini bersama Johann Heiss, Angelika Macho, dan om Rudi untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota akbar ini. Tujuan kami datang ke kota akbar (julukan bagi Tuban adalah kota akbar, tapi bukan berarti Tuban merupakan kota yang besar) adalah untuk mencari batik dengan motif khas Tuban yang katanya laku keras di pasaran Austria.

Kesan pertama atas kota ini adalah sepi!!! yah mungkin karena kami sampai di kota ini bertepatan dengan acara televisi yang paling banyak ditunggu mayoritas penduduk Tuban saat bulan puasa, yaitu azan magrib. Namun kesan sepi masih tetap ada saat malam mulai larut, ah mungkin karena mayoritas penduduk Tuban merupakan santri maka tentunya mereka sedang menjalankan ibadah salat tarawih. Paginya saat berputar-putar di sekeliling kota mencari sarapan (yah aku mencari pembenaran untuk tidak berpuasa dengan alasan musafir) aku menyimpulkan bahwa ternyata kota ini memang sepi.

Sebagai kota kecil, sebenarnya Tuban memiliki potensi wisata yang besar. Jangan lupa bahwa Tuban merupakan salah satu kota tujuan wisata ziarah, karena di pusat kota ini terdapat makam salah seorang wali sanga, yaitu sunan Bonang. Kota ini juga kaya dengan potensi alamnya (begitu yang aku baca dari brosur wisata di hotel), jangan lupa untuk mengunjungi gua akbar, pemandian alami bektiharjo, gua ngerong, pemandian air panas prataan, serta kuil Kwan Sing Bio. Yah kunjungan kemarin memang singkat sehingga aku belum sempat mampir di beberapa obyek wisata itu, tapi aku dapat oleh-oleh yang buat aku senang, yaitu batik tulis…tenun pula!!!

Batik Tuban memiliki pola khas yang sangat berbeda dengan motif-motif batik yogya, solo, maupun pekalongan. Selain itu pembuatannya pun masih menggunakan cara dan bahan-bahan tradisional. Aku sempat melihat proses pembuatan batik di salah satu desa yang cukup jauh dari pusat kota Tuban. Mulai dari penenunan, pelukisan tangan, hingga proses pewarnaan. Sayangnya batik Tuban masih kalah pamornya bila dibandingkan batik dari Solo maupun Yogya, sepertinya siy kurang promosi…atw pemerintah kurang memperhatikan nasib pengrajin batik???uhmm mungkin ini juga alasan Malaysia mematenkan batik Indonesia kali yee


Responses

  1. Oughm gw pikir ke-Tuban-nya siapa yang pecah…

  2. halah utekmu ga jauh-jauh ma begituan

  3. boleh duonk… liat batik tulis tenunnya???
    berapa harganya, kasi infonya ya…


Leave a response

Your response:

Categories